Translate

Diberdayakan oleh Blogger.

kaidah ushuliyah

  kaidah ushuliyah

 قواعد الأصولية
BAB I
PENDAHULUAN
I. Latar Belakang


       Qawaid Ushuliyyah (kaidah ushuliyah) adalah kaidah yang berkaitan dengan bahasa. Dan kaidah ushuliyah ini juga merupakan kaidah yang sangat penting, karena kaidah ushuliyah merupakan media/ alat untuk menggali kandungan makna dan hukum yang tertuang dalam nash Al-Qur’an dan As-Sunnah, sehingga dengan kaidah ushuliyah ini, merupakan modal utama dalam memproduk fiqih. Tanpa kaidah ushuliyah, pengamalan hukum Islam cenderung belum semuanya
       Karena pentingnya hal tersebut, sehinggga merupakan suatu kebutuhan bagi kita semua khususnya mahasiswa yang akan meneruskan perjuangan pendahulu-pendahulu kita dalam membela dan menegakkan islam untuk mempelajari hal ini. Karena banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali apa itu Qawaid ushuliyah . Oleh karena itu penting bagi seorang mujtahid maupun calon mujtahid untuk menggali sebuah hukum dengan mempelajari kaidah ushuliyyah ini.

II. Rumusan Masalah
       Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Apa pengertian kaidah Ushuliyah?
2. Apa sajakah jenis-jenis dari kaidah Ushuliyah beserta kaidah-kaidahnya?
3. Apa perbedaan antara kaidah ushuliyyah dan kaidah fiqih?
4. Apa fungsi dari kaidah ushuiyah?

III. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa pengertian kaidah ushuliyah
2. Untuk mengetahui apa saja jenis-jenis dari kaidah Ushuliyah beserta kaidahnya
3. Untuk mengetahui apa perbedaan antara kaidah ushuliyah dan kaidah fiqih
4. Untuk mengetahui apa fungsi dari kaidah ushuliyah

PEMBAHASAN
KAIDAH USHULIYYAH
1. Pengertian Kaidah Ushuliyyah
       Qa’idah Ushuliyyah merupakan gabungan dari kata Qaidah dan ushuliyah, kaidah dalam bahasa Arab ditulis dengan qaidah, yang artinya patokan, pedoman dan titik tolak. Dan ada pula yang mengartikan dengan peraturan. Sedangkan bentuk jamak dari qa’idah adalah qawa’id. Adapun ushuliyah berasal dari kata al-ashl, yang artinya pokok, dasar, atau dalil sebagai landasan. Jadi, Qa’idah Ushuliyyah adalah pedoman untuk menggali dalil syara’, yang bertitik tolak pada pengambilan dalil atau peraturan yang dijadikan metode dalam penggalian hukum, kaidah ushuliyah disebut juga sebagai kaidah Istinbathiyah atau ada yang menyebut sebagai kaidah lughawiyah. (1) Sedangkan menurut Prof. Dr. Muhammad Syabir (dalam Amin Darmah :2011) mendefinisikan sebagai:” ”Suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang dengannya bisa sampai pada pengambilan kesimpulan hukum syar’iyyah al far’iyyah dari dalil-dalilnya yang terperinci”.
        Penulis mengambil kesimpulan bahwa kaidah ushulliyyah merupakan sejumlah peraturan untuk menggali dalil-dalil syara’ sehingga didapatkan hukum syara’ dari dalil-dalil tersebut dan kaidah ushulliyah ini juga merupakan kaidah yang berhubungan dengan masalah kebahasaan, yang didalamnya tidak berbicara sama sekali tentang fiqih karena didalamnya hanya berhubungan dengan masalah kebahasan saja, yang telah disepakati oleh semua ulama’ madzhab dan dijadikan pijakan ulama’ tentang hukum.
        Adapun contoh-contoh qaidah ushuliyyah yang dipaparkan oleh prof. Dr. Rachmat Syafe’i,MA. adalah sebagai berikut:
Kaidah :
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
Artinya: “Yang dipandang dasar (titik talak) adalah petunjuk umum dasar lafazh bukan sebab khusus (latar belakang kejadian).
Kaidah :
إذا اجتمعت المقتضى والمنافع قدمت المنافع
Artinya : “Bila dalil yang menyuruh bergabung dengan dalil yang melarang maka didahulukan dalil yang melarang.”(3)
2. Jenis- jenis Qawaid Ushulliyyah
       Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si menjelaskan bahwa penerapan kaidah ushuliyah yang pertama adalah kaidah lughawiyah, yaitu kaidah bahasa yang berhubungan dengan kalimat-kalimat yang tersirat dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Adapun kaidah-kaidah tersebut adalah sebagai berikut: (1)
1. Amr dan Nahi
Ø Pengertian Amr
     Menurut jumhur ulama ushul, definisi amr adalah lafadz yang menunjukkan tuntutan dari atasan kepada bawahannya untuk mengerjaan suatu pekerjaan. Amar menurut bahasa berarti perintah. Sedangkan menurut istilah adalah, من الأعلى إلى الأدنى" الأمر طلب الفعل”amr adalah perbuatan meminta kerja dari yang lebih tinggi tingkatannya kepada yng lebih rendah tingkatannya.” atau dapat didefinisikan, اللفظ الدال على طلب الفعل على جهة الاستعلاء Suatu tuntutan (perintah) untuk melakukan sesuatu dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada pihak yang lebih rendah kedudukannya.
Ø Kaidah dalam ’Amr.
Apabila dalam nash syara’ terdapat salah satu dari bentuk perintah, maka ada beberapa kaidah yang mungkin bisa diberlakukan.
Kaidah pertama,
الأصل قى الأمر للوجوب, meskipun suatu perintah bisa menunjukkan berbagai pengertian, namun pada dasarnya suatu perintah menunjukkan hukum wajib dilaksanakan kecuali bila ada indikasi atau dalil yang memalingkannya.
Contoh perintah yang terbebas dari indikasi yang memalingkan dari hukum wajib adalah QS. An-Nisa (4) : 77
”Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: Tahanlah tanganmu (dari berperang), Dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat!…”

Ayat tersebut menunjukkan hukum wajib mendirikan sholat lima waktu dan menunaikan zakat.
Adapun contoh perintah yang disertai indikasi yang menunjukkan hukum selain wajib, QS. Al-Baqarah (2) : 283
”Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. dan barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.


b. Nahi
Ø Pengertian Nahi
Mayoritas ulama Ushul Fiqh mendefinisikan nahi sebagai:
الاستعلاء بالسيغة الدال عليطلب الكف عن الفعل على الجهة
Larangan melakukan suatu perbuatan dari pihak yang lebih tinggi kedudukannya kepada yang lebih rendah tingkatannya dengan kalimat yang menunjukkan atas hal itu.
Jika lafal khusus yang terdapat dalam nash syara’ berbentuk nahi atau bentuk berita yang nermakna larangan, maka berarti haram. Yaitu menuntut untuk tidak melakukan yang dilarang secara tetap dan pasti. Menurut ulama ushul, definisi nahi adalah kebalikan amr, yakni lafad yang menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan sesuatu (tuntutan yang mesti di kerjakan) dari atasan kepada bawahan. Namun, para ulama ushul sepakat bahwa nahyi itu seperti juga amr dapat digunakan dalam berbagai arti.
Ø Kaidah yang berhubungan dengan Nahi
        Kaidah, الأصل فى النهى للتحريم, pada dasarnya suatu larangan menunjukkan hukum haram melakukan perbuatan yang dilarang kecuali ada indikasi yang menunjukkan hukum lain.
Contohnya ayat 151 surat al-An’am. “dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar“
Contoh larangan yang disertai indikasi yang menunjukkan hukum selain haram, dalam Surat Al-Jum’ah (62) : 9. “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.
2. Aam dan Khas
Ø Pengertian Aam
       ‘Am menurut bahasa artinya merata, yang umum; dan menurut istilah adalah " Lafadz yang memiliki pengertian umum, terhadap semua yang termasuk dalam pengertian lafadz itu. Dengan pengertian lain, ‘am adalah kata yang memberi pengertian umum, meliputi segala sesuatu yang terkandung dalam kata itu dengan tidak terbatas.
       Menurut istilah ‘am yaitu suatu lafadz yang dipergunakan untuk menunjukkan suatu makna yang pantas (boleh) dimasukkan pada makna itu dengan mengucapkan sekali ucapan saja.Seperti lafadz “arrijal” maka lafadz ini meliputi semua laki-laki.
Disamping pengertian ‘am diatas ada beberapa pengertian ‘am menurut ulama’ lainnya antara lain:
a) Hanafiah yaitu “Setiap lafazh yang mencakup banyak, baik secara lafazh maupun makna”.
b) Al-Ghazali yaitu “Suatu lafazh yang dari suatu segi menunjukkan dua makna atau lebih”
c) Al-Bazdawi yaitu “Lafazh yang mencakup semua yang cocok untuk lafazh tersebut dalam satu kata”
d) Menurut Uddah ( dari kalangan ulama' Hanbali )" suatu lafadz yang mengumumi dua hal atau lebih".
Kaidah yang menunjukkan pada umum yang melengkapi dan melingkupi semua yang khusus, misalnya kaidah :
العمعوم من عوارض الألفاظ
Artinya: “Keumuman itu yang dimaksudkan adalah lafazhnya.”
ﺍﻠﻌﻤﻭﻡ ﻻﻴﺘﻭﺼﺭ ﻓﻲﺍﻻﺤﻜﺎﻡ
Artinya: “Keumuman itu tidak dapat menggambarkan suatu hukum.”

ﺍﻠﻌﺎﻡ ﻋﻤﻭﻤﻪ ﺸﻤﻭﻠﻲ ﻭﻋﻤﻭﻡ ﺍﻠﻤﻁﻠﻕ ﺒﺩﻠﻲ
Artinya: “Al-‘Am itu umumnya bersifat menyeluruh, sedangkan lafazh umum yang mutlak hanya bersifat sebagian.”

Ø Pengertian Khas
       Khas ialah lafadz yang menunjukkan arti yang tertentu, tidak meliputi arti umum, dengan kata lain, khas itu kebalikan dari `âm. Menurut istilah, definisi khas adalah:“Al-khas adalah lafadz yang diciptakan untuk menunjukkan pada perseorangan tertentu, seperti Muhammad. Atau menunjukkan satu jenis, seperti lelaki. Atau menunjukkan beberapa satuan terbatas, seperti tiga belas, seratus, sebuah kaum, sebuah masyarakat, sekumpulan, sekelompok, dan lafadz-lafadz lain yang menunjukkan bilangan beberapa satuan, tetapi tidak mencakup semua satuan-satuan itu”
       Dalam pengertian lain khas adalah lafaz yang khash itu lafaz yang diletakkan untuk menunjukkan suatu individu yang satu perseorangannya, seperti seorang laki-laki, atau menunjuk kepada sejumlah individu dan tidak menunjukkan terhadap penghabisan seluruh individu-individu. Atau khas ialah lafadz yang tidak meliputi mengatakannya sekaligus terhadap dua sesuatu atau beberapa hal tanpa menghendaki kepada batasan.
Ø Kaidah yang berkaitan dengan khas atau khusus, misalnya :
ﺍﻥ ﺍﻠﺘﺨﺼﻴﺹ ﺍﻠﻌﻤﻭﻤﺎﺕ ﺠﺎﺌﺯ
Artinya: “Sesungguhnya pengkhususan lafazh umum adalah diperbolehkan.”
ﺍﻠﺼﻔﺔ ﻤﻥﺍﻠﻤﺨﺼﺼﺎﺕ
Artinya: “Sifat itu bagian dari pengkhususan.”(2)
3. Kaidah yang berkaitan dengan manthuq (tersurat/tekstual) mafhum (tersirat/kontekstual). Misalnya kaidah :
ﻭﺠﻤﻴﻊ ﻤﻔﺎﻫﻴﻡ ﺍﻠﻤﺨﺎﻠﻔﺔ ﺤﺠﺔ ﺍﻻ ﻤﻔﻬﻭﻡ ﺍﻠﻠﻘﺏ
Artinya: “Semua mafhum mukhalafah dapat dijadikan hujjah, kecuali mafhum laqab.”
Menurut beliau menambahkan, selain kaidah lughawiyah, sebenarnya ada pula kaidah tasyri’iyah, tetapi acuan pokoknya tetap kaidah bahasa. Yaitu kaidah al-tasyri’iyah terdiri dari dua kata yaitu kaidah dan al-tasyri’iyah. Apa yang dimaksud dengan kaidah, secara jelas telah penulis bahas pada pembahasan qaidah al-ushuliyah. Adapun yang dimaksud dengan al-tasyri’iyah akan diterangkan berikut ini.
       Dr. Juhaya S. Praja mengemukakan bahwa dalam bahasa Arab dijumpai kata shara’a yang berarti membuat jalan raya, suatu jalan besar yang menjadi jalan utama, dengan demikian, kata tasyri’ berarti pembentukan jalan raya itu. Terdapat dua macam tasyri’, antara lain tasyri’ samawiy dan tasyri’ wad’iy. Tasyri’ Samawiy yaitu peraturan perundang-undangan yang murni dari pembuat hukum, yaitu Allah. Adapun tasyri’ wad’iy ialah peraturan perundang-undangan yang dibuat dan dirumuskan oleh manusia yang didasarkan atau dengan referensi tasyri’ samawiy.
      Kaidah perundang-undangan yang dalam istilah ahli ushul fiqhi dikenal dengan nama Qawa’idut-   Tasyri’iyah ialah tata aturan yang dibuat pedoman oleh pembuat undang-undang dalam menyusun undang-undang dan merealisir tujuan yang ingin dicapainya melalui pemberian beban kewajiban kepada orang-orang mukallaf.
      Dari definisi di atas diketahui bahwa qaidah al-tasyri’iyah itu sangat berguna terutama dalam proses penyusunan undang-undang. Undang-undang secara garis besar ada dua macam, yaitu qanun tasyri’i (peraturan perundangan) dan qanun ijra’i (peraturan prosedural).Qanun tasyri (peraturan perundangan) adalah undang-undang yang materinya berupa hukum syara’, atau aqidah, atau kaidah kulliyah syar’iyyah, atau sumber-sumber hukum syara’. Qanun ijra’i (peraturan prosedural) adalah undang-undang yang materinya berkaitan dengan sekumpulan cara (uslub), sarana (wasilah), dan alat (adawat) untuk melaksanakan hukum syara’ tertentu.(2)
3. Perbedaan Qawaid Ushulliyyah dan Qawaid Fiqhiyyah:
Perbedaan diantara keduanya menurut Ahmad Rajafi Sahran, (2011) adalah sebagi berikut:
1. Kaidah Ushuliyah.
       Kaidah-kaidah ushuliyah disebut juga kaidah istinbathiyah atau kaidah lughawiyah. Disebut kaidah istimbathiyah karena kaidah-kaidah tersebut dipergunakan dalam rangka mengistinbathkan hukum-hukum syara’ dari dalil¬dalilnya yang terinci. Disebut kaidah lughawiyah karena kaidah ini merupakan kaidah yang dipakai ulama berdasarkan makna, susunan, gaya bahasa, dan tujuan ungkapan-ungkapan yang telah ditetapkan oleh para ahli bahasa arab, setelah diadak an penelitian-penelitian yang bersumber dan kesusastraan arab.
Kaidah-kaidah ushuliyah digunakan untuk memahami nash-nash syari’ah dan hukum-hukum yang terkandung dalam nash-nash tersebut. Dengan kaidah ushuliyah dapat difahami hukum-hukum yang telah diistinbathkan oleh para imam mujtahidin,.
2. Kaidah Fiqhiyah
     Kaidah fiqhiyah adalah kaidah hukum yang bersifat kulliyah (bersifat umum) yang dipetik dari dalil-dalil kulli, dan dari maksud-maksud syara’ dalam meletakkan mukallaf di bawah beban dan dari memahamkan rahasia-rahasia tasri’ dan hikmah-hikmahnya. Rahasia tasyri’ adalah ilmu yang menerangkan bahwa syara’ memperhatikan pelaksanaan hukum bagi mukallaf, kemaslahatan hamba, dan menerangkan bahwa tujuan menetapkan aturan-aturan ialah untuk memelihara agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
      Kaidah-kaidah fiqhiyah dijadikan rujukan (tempat kembali) seorang hakim dalam keputusannya, rujukan seorang mufti dalam fatwanya, dan rujukan seorang mukallaf untuk mengetahui hukum syaria’t dalam ucapan dan perbuatanya. Karena aturan-aturan syara’ itu tidak dimaksudkan kecuali untuk menerapkan materi hukumnya terhadap perbua tan dan ucapan manusia. Selain itu juga kaidah fiqhiyah digunakan untuk membatasi setiap mukallaf terhadap hal-hal yang diwajibkan ataupun yang diharamkan baginya.
      Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kaidah ushuliyah memuat pedoman penggalian hukum dari sumber aslinya baik Al-Quran maupun sunnah dengan menggunakan pendekatan secara kebahasaan. Sedangkan kaidah fiqhiyah merupakan petunjuk yang operasional dalam mengistinbathkan hukum Islam, dengan melihat kepada hikmah dan rahasia¬rahasia tasyri’. Namun kedua kaidah tersebut merupakan patokan dalam mengistinbathkan suatu hukum, satu dengan yang lainnya yang tidak dapat dipisahkan, karena keduanya saling membutuhkan, dalam menetapkan hukun Islam .
4. Fungsi Kaidah Ushulliyyah
      Fungsi utama dari kaidah Ushulliyah menurut Amin Darmah adalah untuk mengangkat ketentuan-ketentuan hukum islam yang terpapar dalam al-Qur’an dan al-Sunnah, sehingga setiap orang mukallaf dapat mengetahuinya dengan baik, dan menerimanya sebagai ketentuan syara’ baik secara yakin maupun dzan.
      Para ulama menempuh langkah-langkah kreatif menurut norma-norma hukum itu yang terpapar secara acak dalm al-Qur’an dan al-Sunnah dalam bentuk kalam-kalam yang tertulis, dan mereka tidak berjumpa langsung dengan rasulullah sebagai orang yang menyampaikan kalam tersebut dan mampu menjelaskannya dengan baik. Dengan demikian, kaidah ushulliyyah ini hanya merupakan metodelogi kajian hukum dari nash-nash al-Quran dan al-Sunnah yang berfungsi mengangkat ketentuan-ketentuan hukum islam, untuk kemudian menjadi pedoman bagi orang-orang mukallaf dalam menjalani kehidupan ini.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
       Kaidah Ushuliyyah merupakan gabungan dari kata kaidah dan ushuliyah, kaidah dalam bahasa Arab ditulis dengan qaidah, yang artinya patokan, pedoman dan titik tolak. Ada pula yang mengartikan dengan peraturan. Bentuk jamak qa’idah (mufrad) adalah qawa’id. Adapun ushuliyah berasal dari kata al-ashl, artinya pokok, dasar, atau dalil sebagai landasan. Jadi, Ka’idah Ushuliyyah adalah pedoman untuk menggali dalil syara’, titik tolak pengambilan dalil atau peraturan yang dijadikan metode penggalian hukum, kaidah ushuliyah disebut juga sebagai kaidah Istinbathiyah atau ada yang menyebut sebagai kaidah lughawiyah, kaidah ushuliyah adalah dasar-dasar pemaknaan terhadap kalimat atau kata yang digunakan dalam teks atau nash yang memberikan arti hukum tertentu dengan didasarkan kepada pengamatan kebahasaan dan kesusastraan Arab.
      Beberapa Jenis-jenis ka’idah Ushuliyyah diantaranya amr dan nahi, aam dan khas, (tersurat/tekstual) mafhum (tersirat/kontekstual) masing-masing mempunyai pengertian yang berbeda namun pada hakikatnya sama yaitu guna menggali sebuah hukum, yang berfungsi sebagai alat menggali sebuah hukum syara’.

B. Saran
     Penyusun makalah ini hanya manusia yang memiliki keterbtasan ilmunya, yang hanya mengandalkan buku referensi dan rujukan yang telah ada saja. Oleh karena itu, penyusun menyarankan agar para pembaca yang ingin mendalami masalah Kaidah Ushulluiyyah ini, diharpkan agar setelah membaca makalah ini, kemudian membaca sumber-sumber lain yang lebih komplit, yang tidak hanya sebatas membaca makalah ini saja.

DAFTAR PUSTAKA

1. Beni Ahmad Saebani, Ilmu Ushul Fiqh, Bandung, CV. Pustaka Setia, 2009,
2. Koto, Alaidin. 2004. Ilmu Fiqih Dan Ushulul Fiqih. Jakarta: Rajawali Pers.
3. Hakim, Abdul Hamid. 1928. مبادى أولية في أصول الفقة. Jakarta: Sa’adiyah putra
4. http://kozam.wordpress.com/2009/II/10/kaidah-kaidah-ushul-fiqh
5. Fadal, Muh kurdi. 2008. Kaidah-kaidah fikih. Jakarta Barat: Artha Rivera
6. http://mbahduan.blogspot.com/2012/03/ kaidah-ushuliyah.html
7. http://Amindarnah.blogspot.com/2011/05/kaidah kaidah al ushulliyyah.html
8. http://Ahmad Rajafi Sahran.blogspot.com /2011/02/qawaidalushulliyah dan alfiqhiyah.html

Yakin tidak Dapat Dihilangkan Dengan Kebimbangan

YAKIN TIDAK DAPAT DIHILANGKAN DENGAN KEBIMBANGAN

اليقين لا يزال بالشك


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Keyakinan dapat diartikan sebagai satu kepastian atau prasangka yang kuat terhadap satu hal yang dikerjakan, dan keraguan hanya semata-mata kebimbangan tentang apakah prasangkanya sama kuat atau ada yang lebih kuat. Dalam kehidupan sehari-hari ada Dja peristiwa yang dialami oleh umat mengenai keragu-raguan dam menjalankan satu perkara. Misalnya dikala kita menemukan bangkai bangkai dalam sumur yang biasa dipakai untuk bersuci dari hadas. Sejak peristiwa penemuan bangkai tersebut terkadang kita ragu apakah bersuci yang selama ini kita lakukan itu sah atau tidak. Oleh karena itu, dengan melihat kejadian tersebut penyusun merasa perlu untuk membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dan keragu-raguan dari setiap perbuatan yang dilakukan.
Menurut hemat penulis, yang sesuai dengan peristiwa tersebut ialah kaidah yang berkenaan dengan keyakinan dan keraguan yaitu” Al-Yaqinu Laa yuzalu bis Syak” . kaidah  ini sangat penting untuk dipelajari, karena menurut Imam As-Suyuthi, kaidah ini mencakup semua pembahasan dalam masalah fiqih dan masalah-masalah yang berkaitan dengan mencapai ¾ dari subjek pembahasan fiqih.
Imam Al-Qorafi menambahkan bahwa dalam kaidah ini seluruh umat sudah bersepakat dalam mengamalkannya dan kita harus selalu mempelajarinya. Kemudian Imam Daqiq Al-‘Id mengisyaratkan pada setiap umat islam untuk mengerjakan sesuatu yang sudah pasti ada dan membuat keragu-raguan, sehingga seakan-akan para Ulama’ telah sepakat tentang keberadaan kaidah ini, akan tetapi mereka tidak bersepakat dalam prosedur tata laksana kaidah ini.
Kaidah ini menghantarkan kepada kita kepada konsep kemudahan demi menghilangkan yang kadang kala menimpa kita, dengan cara menetapkan sebuah kepastian hukum dengan menolak keragu-raguan. Sebab telah kita ketahui bersama, keragu-raguan adalah beban kesulitan, maka kita diperintahkan untuk mengetahui hukum secara benar dan pasti sehingga terasa mudah dan ringan dalam menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, termasuk di dalamnya adalah Aqidah dan Ibadah.
B. Rumusan masalah 
a. Apa pengertian Yakin dan Syak?
b. Landasan apa saja yang dipakai dalam menjelaskan Yakin dan Syak ini? 
C.  Apa implementasi dari kaidah tersebut?
c. Tujuan penulisan
Untuk mengetahui pengertian Yakin dan Syak serta mampu mendeskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan dan keraguan, yakni kaidah fiqih tentang keyakinan dan keraguan, dasar-dasar tentang keyakinan dan keraguan, serta kaidah-kaidah lanjutannya.


BAB II
PEMBAHASAN
 اليقين لا يزال بالشك
YAKIN TIDAK DAPAT DIHILANGKAN DENGAN KEBIMBANGAN

        Yakin adalah sesuatu yang menjadi mantap karena pandangan atau dengan adanya dalil. Dari penjelasan di atas maka dapat dipahami bahwa seorang dapat dikatakan telah meyakini terhadap satu perkara, manakala terhadap perkara itu telah ada bukti atau keterangan yang ditetapkan oleh pancar indera atau pikiran. Contohnya seseorang yang merasa hadats dari wudlunya harus dapat diyakini hadatsnya itu dengan adanya angin yang keluar yang dapat dirasakan atau didengar suaranya oleh telinga dan dapat dicium oleh hidung.
اليقين هو ما كان ثابتا بالنظر او الدليل
                   Sedangkan Syak adalah sesuatu yang berada antara ketetapan dan ketidak tetapan Diana pertentangan tersebut berada dalam posisi yang sama matra batas kebenaran dan kesalahan, tanpa dapat dikuatkan salah satunya.
الشك هو ما كان متردّا بين ثبوت وعدمه مع تساوى طرفى الصواب والخطاء دون ترجيح أحدهما على الآخر.
Keyakinan dan keraguan merupakan dua hal yang berbeda, bahkan dapat dikatakan saling berlawanan. Hanya saja, besarnya keyakinan dan keraguan akan bervariasi tergantung lemah dan kuatnya tarikan yang satu dengan yang lain. Dan kaidah yang berkaitan dengan hal ini adalah:
اليقين لايزال بالشّكّ
Keyakinan tidak dapat  dihilangkan dengan kebimbangan

DASAR KAIDAH
         Menurut abi saskia bahwa adapun sumber kaidah tentang keyakinan dan keraguan ini berdasarkan beberapa buah hadits. Antara lain hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا وجد أحدكم في بطنه شيئا فأشكل عليه أخرج منه شيئ أم لا فلايخرجنّ من المسجد حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا.
“Manakala seseorang di antaramu menemukan sesuatu dalam perutnya, lalu ia ragu, adakah sesuatu yang keluar darinya atau tidak, maka janganlah ia keluar dari masjid sampai ia mendengar suara atau menemukan bau”.
            Hadits di atas menunjukkan adanya keraguan bagi yang sedang sholat atau menunggu (duduk di masjid) untuk melaksanakan sholat berjama’ah. Secara logika, orang tersebut dalam keadaan suci (sudah berwudlu). Dan orang tersebut ragu-ragu apakah ia telah mengeluarkan angin atau tidak, maka ia harus dianggap masih alam keadaan suci. Karena keadaan inilah yang sudah meyakinkan tentang kesucian sejak semula, sedang keraguan baru timbul kemudian. Oleh karena itu orang tersebut tidak perlu berwudlu lagi sebelum mendapatkan bukti berupa bunyi atau baunya. Dan sabda Rasulullah di tempat lain berbunyi:
إذا شكّ أحدكم في صلاته فلم يدركم صلّى أثلاثا أم أربعة فليطرح الشّكّ واليبن على ما استيقن.
Artinya: “Apabila salah seorang di antara kamu meragukan shalatnya, lalu ia tidak mengetahui  berapa raka’at yang telah ia kerjakan, tiga atau empat, maka hendaklah dilempar yang meragukan itu dan dibinalah menurut apa yang diyakinkan.
(HR. Muslim)
            Hadits tersebut memberi isyarat bahwa dua buah hitungan yang diragukan mana yang benar, agar ditetapkan hitungan yang terkecillah yang memberikan keyakinan. Sebab dalam menghitung sebelum sampai ke hitungan yang besar pastilah melalui hitungan yang kecil terlebih dahulu, karena yang kecil (sedikit) itulah yang meyakinkan. Dalil akal (aqli) bagi kaidah keyakinan dan keraguan adalah bahwa keyakinan lebih kuat daripada keraguan, karena dalam keyakinan terdapat hukum Qath’iyang meyakinkan. Atas dasar pertimbangan itulah dapat dikatakan bahwa keyakinan tidak dapat sirsak oleh keraguan.
Dari kaidah-kaidah yang merupakan garis besar ini dapat dibentuk kaidah-kaidah yang lebih khusus yang pada dasarnya tidak menyimpang dari kaidah pokok ini. [4]Berikut ini merupakan kaidah-kaidah lanjutan dari kaidah dasar di atas: 
a.       الأصل بقاء ما كان على ما كان 
“Yang jadi pokok adalah tetapnya sesuatu pada keadaan semula”
Contoh: Seseorang mempunyai wudlu, lalu ia ragu sudah batalkah atau belum, maka hukumnya ia tetap mempunyai wudlu. 
b.      الأصل براءة الذّمّة 
“Yang jadi patokan adalah bebas dari tanggungan”
Contoh:A mengadukan B, bahwa B berhutang Rp.1.000,- kepadanya, tetapi pengaduan itu tidak disertai dengan bukti maupun saksi, sedang B (yang diadukan) menyangkal dan mengatakan bahwa ia tidak merasa berhutang. Maka menurut hukum, pengaduan A tertolak berdasarkan kaidah ini. 
c.       من شكّ هل فعل شيئا أولا؟ فالأصل أنّه لم يَفعَله 
“Jika ada orang ragu , apakah ia sudah mengerjakan sesuatu atau belum, maka ia dianggap belum berbuat” 
Contoh:A mengadukan bahwa B berhutang Rp.1.000,- kepadanya. Lalu di depan pengadilan terjadilah dialog seperti ini:
Hakim : B! Benarkah kau berhutang Rp.1.000,- kepada A?
B         : Benar, tapi sudah saya lunasi.
Hakim : Apakah kau punya tanda bukti pembayaran hutang?
B         : Tidak
Hakim : A!, kata B hutangnya kepadamu sudah dibayar. Apakah benar?
A         : Belum!
Maka berdasarkan kaidah ini, Hakim memutuskan, bahwa hutang B kepada A belum terlunasi. 
d.      من تيقّن الفعل وشكّ في القليل أو الكثير حمل على الكثير 
“Jika seseorang telah yakin berbuat (sesuatu), tetapi ia ragu tentang banyak sedikitnya, maka yang dihitung adalah yang sedikit.” 
Contoh: Seseorang sedang tengah-tengah sholat Dhuhur merasa ragu, apakah yang dikerjakannya empat raka’at, atau baru tiga raka’at. Berdasarkan kaidah ini, yang dihitung adalah tiga raka’at  dan ia harus menambah satu raka’at lagi. 
e.       الأصل العدم 
“Asal (di dalam hak) itu tidak ada.” 
Contoh :A menyerahkan Rp.1.000,- kepada B, untuk digunakan sebagai modal, dengan perjanjian keuntungan dibagi dua. Selang beberapa lama, A menuduh bahwa B telah memperoleh keuntungan dari uang modal tersebut, tetapi B menyangkal tuduhan itu. Berdasarkan kaidah ini, yang dibenarkan adalah B yang menyatakan tidak/belum ada keuntungan. 
f.       الأصل في كلّ حادث تقديره بأقرب زمن 
“Tiap-tiap yang baru itu harus dikira-kirakan kepada masa yang lebih dekat.” 
Contoh:Seseorang melihat bekas mani pada sarung yang dipakainya. Ia ragu mani kemarinkah yang karenanya ia telah mandi atau mani baru setelah ia bangun tidur tadi. Berdasarkan kaidah ini, diputuskan bahwa mani itu adalah baru dan bukan kemarin. 
g.      الأصل في الأشياء الإباحة حتّى يدلّ الدّليل على التّحريم 
“Segala sesuatu yang pada dasarnya boleh, kecuali ada dalil yang mengharamkannya.” Ini menurut mazhab Syafi’i, sedang menurut mazhab Hanafi sebaliknya, yakni:
الأصل في الأشياء التّحريم حتّى يدلّ الدليل على الإباحة 
“Segala sesuatu itu pada dasarnya haram, kecuali bila ada dalil yang memperbolehkannya.” Imam Syafi’i berpendapat :  “Allah itu maha bijaksana, jadi mustahillah Allah menciptakan sesuatu, lalu mengharamkan atas hamba-Nya.”
Beliau berpegang kepada dalil:

a)      Sabda Rasulullah SAW
ما أحلّ الله فهو حلال وما حرّم الله فهو حرام وما سكّتا عنه فهو عفو
“Apa yang dihalalkan oleh Allah adalah halal dan apa yang diharamkan-Nya adalah haram, sedangkan apa yang didiamkan adalah dimaafkan.”
b)      Firman Allah
خلق لكم ما في الأرض جميعا
“Allah menciptakan bagi kalian apa yang ada di bumi seluruhnya.”
Imam Abu Hanifah berkata bahwa, “Memang Allah maha bijaksana, tetapi bagaimanapun segala sesuatu itu adalah milik Allah SWT sendiri. Jadi kita tidak boleh menggunakannya sebelum ada izin dari Allah.”’
Beliau berpedoman pada firman Allah SWT:
لله ما في السموات وما في الأرض
“Adalah milik Allah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”
Contoh:
Ada seekor binatang yang kita belum dapat mengetahui tentang halal/haramnya. Menurut Imam Syafi’i halal, sedangkan Imam Hanafi mengharamkannya.
Perbedaan antara Imam Syafi’i dan Imam Hanafi dalam hal ini, pengecualian masalah-masalah yang ada hubungannya dengan farji. Dalam perkara satu ini, ke dua beliau sepakat menghukuminya haram.
Misalnya:
Di dalam sebuah desa ada sepuluh orang perempuan, satu di antaranya, diketahui ada hubungan mahram dengan A (laki-laki) tetapi ia belum/tidak tahu yang manakah Siantar sepuluh perempuan itu yang ada hubungan mahram dengannya. Maka menurut hukum, ke sepuluh perempuan tersebut tidak boleh dinikahi (oleh A) salah satunya.
h.      الأصل في الكلام الحقيقة
“Ucapan itu asalnya adalah haqiqah.”
Jadi kalau ada ucapan yang bisa diartikan haqiqah dan dapat pula diartikan majas/kiasan, maka ucapan itu harus diartikan secara haqiqah.
Contoh:
Seseorang bersumpah : “Demi Allah, saya tidak akan membeli baju.” Lalu ia menyuruh orang lain untuk membelikan baginya, maka menurut kaidah ini, orang tersebut dianggap tidak melanggar sumpah.
i.        إذا تعارض الأصل والظّاهر
“Kalau terjadi pertentangan antara Asal dan Dzahir.”
a)      Ditafshil, adakalanya Asal yang dimenangkan dan ada kalanya Dzahir yang dimenangkan.
Contoh:
1.      Piring milik China kafir, hukumnya tetap suci, sebab asalnya memang suci, meskipun ada dzahirnya mungkin pernah digunakan sebagai wadah/tempat makanan dari daging babi.
2.      A melakukan jual beli dengan B. Kemudian as mengatakan, bahwa jual beli itu tidak sah, sedangkan B menganggapnya sah. Yang dibenarkan adalah B yang mengatakan jual beli sah, meskipun asalnya (yaitu A) menganggap tidak sah.
3.      Suami istri telah tinggal dalam satu atap. Istri mengaku sudah digauli, sedang suami berkata belum. Kalau kita berpegang kepada asal, maka yang dibenarkan adalah suami dan jika kita berpegang kepada Dzahir, maka yang benar adalah Istri. Dalam hal ini ulama’ berselisih pendapat.
b)      Manakala Dzahir bertentangan dengan Asal, padahal Dzahir dikuatkan dengan landasan yang menurut Syarak dapat dibenarkan, atau Dzahir itu dikuatkan oleh satu sebab atau kebiasaan/adat, maka Dzahir harus dimenangkan.
Contoh:
1.      Air satu blik berada di tempat yang pada galibnya bisa terkena najis. Lalu ada orang bilang: “Tadi ada seorang anak yang kencing berdiri di dekat air itu, mungkin air itu kecipratan najis.” Berdasarkan kaidah ini, Dzahir air terkena najis dimenangkan.
2.      Bila ada seekor kambing kencing dekat air, air itu mungkin kecipratan dan mungkin tidak, tetapi pada kenyataannya, air berubah, maka Dzahir – air kena najis – dimenangkan.
c)      Apabila Asal dan Dzahir  bertentangan, padahal sebab-sebab kemungkinannya lemah, maka yang dimenangkan adalah Asal.
Pakaian pembuat arak Asalnya adalah suci. Boleh jadi pakaian itu terkena arak, tetapi kemungkinannya lemah sekali, maka pakaian tersebut tetap suci.
d)     Kalau Asal bertentangan dengan Dzahir dan Dzahir lebih kuat, maka Dzahirlah yang dimenangkan.
Contoh:
Seseorang shalat. Setelah salam, ia bimbang tentang apakah ia tidak meninggalkan salah satu rukun selain niat dan takbiratul ihram.
Ia tidak wajib mengulang shalatnya.
e)      Apabila Asal bertentangan dengan kemungkinan-kemungkinan, maka Asal tetap dimenangkan.
Contoh:
Seseorang sedang melaksanakan shalat Dzuhur dan ia yakin, bahwa ia sudah mengerjakan tiga raka’at tetapi mungkin juga empat raka’at.
Berdasarkan kaidah ini, shalat orang itu dihitung tiga raka’at.

j.        إذا تعارض الأصلان
“Apabila ada dua asal yang saling bertentangan.” Maka :
a)      Yang lebih kuat harus dimenangkan
Dan tentu saja, hal ini membutuhkan penguat, baik berupa Dzahir maupun yang lain.
Contoh:
Seorang pria dan seorang wanita telah bertahun-tahun menjadi Suami istri. Kemudian terjadi perkara tuduh menuduh. Istri mengatakan, bahwa selama ini Suaminya belum pernah menggaulinya, sebab impoten, sedang suami menyatakan sudah menggauli istri yaitu di masa-masa sebelum impoten.
Dalam masalah ini, terdapat dua Asal yang saling bertentangan, yakni:
1.      “Menggauli” Asalnya adalah “Belum menggauli.”
2.      “Impotent” Asalnya asalah “Tidak Impotent”
Yang dimenangkan adalah suami, sebab Asal tidak impotent lebih kuat, dikuatkan oleh lamanya mereka bergaul/berkumpul sebagai suami istri.
b)      Jika dua Asal yang saling bertentangan tersebut, masing-masing tidak mempunyai penguat maka Ulama tetap berselisih pendapat.
Contoh:
Seseorang berpuasa dan yakin sudah niat, tetapi ragu apakah niat itu dilakukan sebelum fajar ataukah sesudah fajar?
Karena dua Asal yang saling bertentangan ini masing-masing tidak mempunyai penguat, maka Ulama berbeda pendapat:
1.       mengatakan bahwa, puasa itu tidak sah sebab niat itu Asalnya adalah “tidak sah.”
2.      Ulama lain berpendapat bahwa, puasa itu sah, sebab sesudah fajar, Asalnya adalah “sebelum fajar.”

k.      والظّاهران ربمّا تعارض وهو قليل
“Dzahir itu kadang-kadang juga bertentangan dengan Dzahir lain, meskipun jarang terjadi.”
Contoh:
Sepasang lelaki dan perempuan tertangkap basah di sebuah hotel. Keadaan si Lelaki kelihatan jauh lebih muda dibandingkan dengan perempuan. Pada waktu diperiksa, yang perempuan mengatakan, bahwa lelaki itu adalah suaminya yang sah dan si Lelaki itupun membenarkan.
Dalam hal ini, menurut Qoul jadi: ikrar serta pembenarannya dapat diterima, tetapi menurut Qoul Qodim: tidak dapat diterima, sebab keadaannya meragukan. Jadi untuk menerima ikrar serta pembenarannya tersebut, harus ada saksi.
Macam-macam syak (ragu)
        Menurut Asy-Syaikh Al-Imam Abu Hamid Al-Asyfirayiniy, syak (keraguan) itu ada tiga macam yaitu :
aa.  Syak atas Asal yang haram
Misalnya: Ada seekor kambing disembelih di daerah yang berpenduduk campuran antara Muslimin dan Majusi. Kambing tersebut hukumnya tidak halal, sebab Asalnya haram.
bb. Syak atas Asal yang mubah
Misalnya: Ada air berubah, yang mungkin disebabkan oleh najis dan mungkin pula karena terlalu lama tergenang. Menurut hukum, air tersebut dapat digunakan, sebab Asalnya memang air itu suci.
cc.  Syak atas sesuatu yang tidak diketahui asalnya
Misalnya: A berhubungan kerja dengan orang yang sebagian besar uangnya adalah uang haram. Hukumnya boleh, sebab tidak dapat diketahui Diana uang itu (yang digunakan untuk muamalah) berasal.
Catatan:
a.       Syak (ragu) dan Dhan (sangkaan) itu pengaruhnya dalam hukum sama.
Misalnya: Seseorang bertamu ke rumah temannya. Sampai di sana rumah tertutup, lalu timbul dalam pikirannya “Teman ini, boleh jadi pergi dan mungkin malahan sedang tidur”, ini namanya Syak, “Tetapi kemungkinan besar ia masih berada di rumah sebab kendaraannya masih ada”. Ini yang namanya Dhan.
b.      Kaidah اليقين لايزال بالشّكّ ini mempunyai bandingan, yakniاليقين قد يزال بالشّكّ .
“Yakin itu terkadang hilang sebab bimbang.”
Tetapi kaidah ini hanya berlaku pada beberapa masalah, bahkan Syaikh Abul ‘Abbas Ahmad bin Al-Qash membatasi kaidah ini hanya pada sebelas masalah, sedang Imam Nawawiy menambahkan dengan beberapa masalah, begitu pula Imam Subkiy.
Contoh: Orang-orang akan melakukan shalat Jum’at, tetapi mereka merasa ragu, apakah waktu Jum’at masih ataukah sudah habis? Maka berdasarkan kaidah ini, mereka harus sholat Dhuhur saja.


BAB III
PENUTUP 
         Manusia menuju kunci kesuksesan dan keberhasilan menggapai kebahagiaan hidup dunia dan akhirat, karena keyakinan merupakan sugesti yang sangat kuat untuk mempengaruhi dalam setiap langkah yang akan dilalui oleh manusia.Keyakinan dan keraguan merupakan dua hal yang sangat berbeda, bahkan dapat dikatakan saling berlawanan. Hanya saja besar kecilnya keyakinan dan keraguan akan bervariasi tergantung pada lemah kuatnya tarikan yang satu dengan yang lain.Dalil Aqli (akal) bagi kaidah keyakinan dan keraguan adalah bahwa keyakinan lebih kuat dari pada keraguan, karena di dalam keyakinan terdapat hukum Qath’i yang meyakinkan. Atas dasar pertimbangan itulah dapat dikatakan bahwa keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan kebimbangan/keraguan


DAFTAR RUJUKAN

السيدأبيبكرالأهدالياليمانيالشافعي، ٤۰۰٢، الفرائدالبهية. كديرى:المدرسةهدايةالمبتدئين
Jumantoro, Toto. dan Amin, Syamsul Munir. 2004. Kamus Ilmu Ushul Fiqih. Yogyakarta: Hamzah.
http://fikihilmiah.blogspot.com/


[1] Menurut kamus ushul fiqih
[2] Menurut kamus ushul fiqih
[3] Faraidul bahiyah hal 8-9
[4] Abi saskia
[5] Faraidul bahiyah hal 16
[6] Faraidul bahiyah 16